Reversible Watermarking
Tuntutan autentikasi terhadap medical image sangat besar pada pertukaran data antara komunitas kedokteran dan institusi penelitian. Watermarking citra digital relevan digunakan dalam medical imaging. Namun pada implementasinya dibutuhkan watermarking yang reversible sehingga tidak terjadi penyimpangan pada citra digital yang digunakan. Dalam reversible watermarking tidak hanya menyediakan proteksi terhadap data yang disimpan sebagai hak cipta tetapi juga dapat mengembalikan citra host seperti semula. Reversible watermarking diharapkan tahan terhadap serangan yang disengaja atau tidak disengaja dan harus imperceptible. Reversible watermarking memiliki dua kebutuhan :
1. Blind
Beberapa dari watermarking yang conventional atau umum diketahui memerlukan citra asli untuk mendapat kembali watermark yang disisipkan. Namun, reversible watermarking dapat mengembalikan citra asli dari citra yang terwatermark secara langsung. Maka dari itu, reversible watermarking disebut blind, yang berarti proses retrieval tidak membutuhkan citra asli.
2. Higher Embedding Capacity
Ukuran dalam menyimpan informasi didefinisikan sebagai embedding capacity. Skema reversible watermarking menyisipkan informasi recovery dan informasi watermark sehingga skema reversible watermarking membutuhkan embedding capasity yang lebih besar.
Hasil yang ingin dicapai dari reversible watermarking adalah melakukan proteksi hak cipta dan dapat mengembalikan citra host seperti semula.
References : Bao Feng, dkk.2003."Tailored Reversible Watermarking
Schemes for Authentication of Electronic Clinical Atlas".IEEE
Transaction



